DIRI KITA DAN LABEL HARGA
Alkisah, Kasrun sedang menekuri jalanan dengan sepeda jengki antik kesayangannya. Ada dua alasan penting baginya tidak perlu banyak longak-longok lihat ke depan, samping kiri dan kanan. Pertama, jalanan menuju tempatnya mencari nafkah tidak ramai karena memang jalanan kampung. Kedua, ini yang menurutnya penting, “wa laa tamsyi fil ardhi marohaa.. dan jangan berjalan di muka bumi ini dengan kepala mendongak” kira-kira begitu maksud ayat suci yang ia pahami. Yah siapa tau pula nemu duit, lagian nggak mungkin duit orang jatuh di atap rumah, pikirnya.
Dan, keberuntungan memang sedang mengintipnya. Matanya beradu pandang dengan wajah I Gusti Ngurah Rai pada lembaran duit warna biru. Awalnya bimbang pula ia dibuatnya, tetapi akhirnya duit itupun lenyap seiring putaran roda sepeda jengkinya.
Cerita Kasrun sedikit beda dengan Kisrun. Butuh waktu lebih lama baginya memutuskan apakah kuitansi kosong dari penjual pulpen ia tulis dengan “Rp. 1500.000,-“ untuk satuan pulpen 1500an sebanyak 100 biji, atau dikit-dikit ditambahi jadi “1550.000-“ saja. “lumayan untuk sangu,” kata hati kecilnya. Akhirnya dengan pertimbangan otak sadarnya, ia putuskan tetap dengan harga asli. Lagi pula apa untungnya 50ribu kalau akhirnya harus ia korbankan reputasi, kalau ketahuan.
Tapi cerita Kisrun masih berlanjut. Dasar iblis sudah menyiapkan taktik baru untuk melunakkan hati karyawan logistik yang satu ini. Sepulang dari toko pulpen tadi, sepeda motornya menggilas sesuatu di tengah jalanan aspal yang sepi. Lingak-linguk sebentar, kemudian ia putuskan turun dari motornya, dan disambangilah sesuatu itu. Dompet! Ada pecahan seratus ribuan sebanyak 5 lembar. Astaghfirullah! Teriaknya dalam hati. Ambil, enggak, ambil-enggak,.. “Kuamankan dulu lah!” batinnya lalu meluncur pergi dalam sunyi.
Lain Kasrun, lain Kisrun, lain pula cerita si Kusrun. Dandanan necis, rambut disisir seperempat ke kanan, sisanya ia paksa ke kiri, khas orang kantoran. Sepatu semiran nomor satu yang tiap lima menit ia sebul, biar tetap kinclong! Hem dan celana panjang selalu disetrika sampai lurus benar, bak tiang bendera. Tuntutan karirnya sebagai agen pemasaran untuk sebuah perusahaan appraisal ternama.
Sering ia temui beberapa rekannya berpraktik tidak terpuji dengan sering terima uang ini itu dari klien, banyak juga yang nawarin bagi-bagi, ia tetap bergeming. Yah, memang resiko kerjaan. Klien selalu berupaya dengan beribu cara agar property yang di-adjust-nya bisa bernilai tinggi. Tapi ia abaikan saja.
Waktu terus merambat, entah bagaimana ceritanya perusahaan si Kusrun ini kemudian sepi order. Bila dalam sebulan biasanya bisa 20 order dari bank, dengan nilai satu bangunan paling sedikit 1,2 M lah!, eh bulan ini hanya 5 order maksimal. Itupun bangunan-bangunan lama di pinggiran kota. Nah, ceritanya Kusrun pas lagi luck, dapet order ruko 3 lantai di dalam perumahan. Ia taksir bisa sampai 1,8 M! pemilik ruko ngotot minta dihargai 2 M dengan iming-iming 50juta buat dia! Kusrun mumet setengah mati, nggak diambil sayang, kan jarang banget bulan-bulan ini dapet segitu. Apalagi istri ngotor minta tas baru. Tapi diambil juga malu. Malu sama Tuhan. Kan ‘malu adalah sebagian dari iman’ pikirnya. Setelah nimbang sana-sini, pemilik ruko pun akhirnya puas bukan kepalang. Kusrun pulang, ia apit tasnya erat-erat karena terkandung di dalamnya cek senilai 50juta. Nama Tuhan di hatinya ia lipat saja sekalian dalam amplop.
–0O0—
Seorang ustadz di kampung berceramah di hadapan ratusan santrinya dalam sebuah sesi pengajian. Beliau nuturi para santri :
“Le, bocah-bocah, anak-anakku yang dirahmati Allah. Meskipun nggak mau, kita ini hidup dengan label harga. Harga yang kita bikin sendiri, atau disematkan orang lain pada kita, atau kita yang membikin orang lain menyematkan sebuah nominal harga untuk diri kita. Mau nggak mau itu Le!” ustadz menegaskan.
“Bukan hanya kita dan orang lain, yang sama-sama manusia, Gusti Allah, pengeran yang kita sembah juga menyematkan harga pada diri kita. Kok bisa?” si ustadz tanya, lalu ia jawab sendiri, “lha kita ini jadi manusia menurut kalian apa yang bisa dinilai? Ketampanan, ayu, gagah dan badan atletis? Iya bener, itu juga ada harganya. Buktinya banyak orang yang bisa dapat banyak duit karena tampan dan ayu, tubuh atletis, meski ada yang tubuh tipis juga tebal duitnya. Tapi ada yang lebih penting Le, yaitu yang namanya kejujuran! Kamu sudah nggak ada harganya kalau kejujuranmu itu sudah ketahuan nilai nominalnya. Saiki siapa yang kalau nemu duit 100 ribu diambil?” para santri senyam-senyum menahan malu.
“itulah, berarti harga kejujuran di hatimu, alias hargamu ya segitu itu! Kadang kowe bisa ngempet lihat duit 100 ribuan dalam dompet lalu berbaik hati mengembalikan. Tapi dengan nilai nominal dua puluh kali lipat dari itu, perlu lingak-linguk dulu untuk memutuskan. Ngerti kan maksudku?” para santri mantuk-mantuk. “Padahal Le, santriku yang ngganteng-ngganteng, dengan itu pula Gusti Allah ngecek seberapa mahal diri kita di hadapanNya. Kalau kita nggak cukup mahal, maka Allah juga kasihan mau nempatin kita pada level kehidupan yang harganya tinggi. Bisa-bisa kita nggak kuat, trus jatuh lagi! Kalau gitu siapa yang rugi, kita sendiri kan? Makanya kalau mau jadi pemimpin, ya bikin diri kamu itu punya harga tinggi!” si ustadz makin bersemangat, sementara para santri semakin dalam menekuni pitutur ustadz, ndingkluk nggak balik-balik. Gema suara sang ustadz dalam aula megah disambut dengkuran para santri yang sedang menakar harga diri di alam mimpi..
Kamis, 8 Januari 2009 ba’da isya
Khoirul Azis Rifa’i
Untuk beberapa tulisan lain tentang renungan, pelatihan, manajemen, bisnis, atau sekedar coretan, bisa diintip di www.KhoirulAzis.com
January 10th, 2009 at 8:48 am
Pak Choy, ulasan yang sangat menarik sekali.
Sebenarnya jika kita bekerja pake hati nurani dan lillahitaala tidak mungkin kejadian “melipat nama tuhan”, jadi dunia akan sejahtera. Akan tetapi dunia tidak akan maju
Thanks,
Blaque