Bismillahirrahmanirrahim..
Sungguh hebat rencana Allah pada aktivitas dan kehidupan hambaNya, saking hebatnya hingga sebagai obyek rencana itu kita merasa seakan sebagai pelaku semuanya sekaligus penentu hasilnya. Sementara manusia merencanakan aksi, pada waktu itu pula sebenarnya hasil sudah tertulis pula dalam catatanNya. Mengimani hal seperti ini serasa sulit bahkan bagi kita yang mestinya sudah mengetahuinya dari ayat2 yang Dia turunkan melalui kitab suciNya yang terkandung dalam banyak surat. Hingga terasa sah dan wajar saja bila kemudian muncul kegelisahan yang berlebihan tatkala suatu ketika permasalahan datang melingkupi keseharian manusia. Alih2 coba bersabar dan memohon petunjuk dari Nya, manusia malah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengepulkan pertanyaan yang tidak baru berupa, “Mengapa ini harus menimpa diriku?” “Mengapa aku begitu malangnya?”
Diterpa masalah dan kemudian cemas, bingung, itu wajar karena hukum alam sedang berlaku padanya, seperti tulisan saya sebelumnya, ada aksi, maka ada reaksi. Respon yang jamak saja bila ada masalah kemudian cemas dan bingung. Kalau dihina maka marah, kalau dipukul maka membalas. Kita sering menamakannya dengan istilah ‘reaktif’ untuk seseorang yang biasa merespon tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan segala sesuatunya.
Lalu bagaimana? Ada dua hal yang bisa menjadi panduan alternatif yang menurut saya baik bila mungkin kita install kedalam otak sesaat kita mendapat cobaan dalam hidup.
Pertama, begini. Bukan kah segala sesuatu di alam ini terjadi berdasarkan hukum kausalitas, hukum sebab-akibat. Artinya apa pun yang terjadi tidak bisa tidak selalu ada pangkal penyebabnya. Di sini kita mencoba mengesampingkan kekuatan2 yg tidak kasat mata.
“Bahwa kita hidup di dunia materi dimana ada akibat selalu ada sebab sebagai preposisinya. Jelas pula bagi kita bahwa ilmu dan pengetahun tumbuh dan berkembang dalam rangka menemukan sebab2.”
Nah, begitu juga dengan Allah yang sedang menurunkan ujian buat manusia, bukan kah mestinya ada sebabnya? Coba deh kita introspeksi, baca kembali diri kita, diam sejenak hingga pikiran cukup dingin untuk menangkap hikmah yang Allah sembunyikan di baliknya. Atau coba renungkan apa dosa2 kita hingga membuat ujian itu datang menghampiri kita.
Kedua. Allah Maha Berkehendak, dan kehendakNya adalah independen, tidak tergantung terhadap apapun. Artinya sangat mungkin Allah memberikan ujian pada hambaNya tanpa perlu alasan dan latar belakang masalah. Kun fayakun! Allah bertitah, maka itulah yang terjadi. Allah adalah causa prima, zat yang menjadi pangkal penyebab dari segala sebab. Pesan yang ingin saya sampaikan di sini adalah, kembalikan semuanya pada Allah. Apapun yang Dia maksudkan dengan apa yang sedang terjadi, pasrahkan. Allah tidak perlu alasan untuk menguji hambaNya. Mohon petunjuk dariNya dan mohon diberikan kemudahan.
Ketiga, Allah selalu punya rencana, rencana itu besar, selalu dan pasti baik buat hambaNya. Memang tidak mudah kita programkan kalimat ini ke dalam persepsi dasar logika otak kita. Bukan kah itu adalah sari dari banyak ayat Al-Quran yang menuntun manusia untuk senantiasa sabar dalam menjalani keputusanNya. Logika kita hanya bermain di lingkungan batasan kemampuan akal yang hanya mampu menangkap fenomena2 yang logis saja menurut kita pada masa itu. Maka kita bilang, “ini masuk akal, ini tidak masuk akal!”
Akal belum mampu melogikakan peristiwa mendaratnya manusia ke bulan sebelum Neil Amstrong dan Edwin Aldrin berhasil menjejakkan kaki di sana. Maka itu dianggap mustahil, alias “tidak masuk akal!” akal manusia belum mampu mengimani adanya manusia yang terbang tanpa sayap ke udara saat ini. Itu hanya di alam imajinasi, bahkan utopis! Alias hanya di awang2. Memahami karakter udara dan beberapa partikel di dalamnya adalah sesuatu yang tidak nyampe di pikiran Adit yang baru kelas 2 SD, tapi mudah saja bagi Imron yang sarjana Kimia. Allah memiliki pengetahuan yang tak terkira dan tak terkira lagi luasnya, hingga apa yang tidak logis bagi manusia, “masuk akal” saja bagiNya. Nah bila demikian sekali lagi mari programkan pikiran yang selalu positif pada setiap keputusan yang diketukkan Allah bagi kita.
Wallahu a’lam.
Salam,
Recent Comments