Kita yang beraktivitas di dunia kerja tentu tidak lagi asing bahwa istilah karyawan selalu diposisikan berperang terbuka dengan satu istilah lain, apa itu? Ya, pengusaha! Jadinya employee versus entrepreneur, karyawan lawan pengusaha.
Sesaat menjelang lulus dari dunia pendidikan, seseorang biasanya berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama sulit, apalagi bagi mereka yang sudah memulai merintis usaha semenjak kuliah, mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan, jadi karyawan, ataukah meneruskan usaha saja. Kita kembali ke kedua istilah tersebut, karyawan dan pengusaha. Kedua istilah ini adalah hasil dikotomi dalam dunia kerja, bertahta pada dua kutub yg saling berhadapan. Dan parahnya, banyak yg cenderung memberikan penilaian yg sangat sepihak, tidak obyektif. Kalau mau kaya, ya jadi pengusaha! Benarkah? Tidak salah tentu saja. Tapi apakah lantas menjadi karyawan itu tidak bisa jadi kaya?
Akhir-akhir ini sudah mulai bermunculan buku2 yg berusaha memposisikan keduanya secara sejajar berdampingan. Ada pengusaha, perusahaan, namun juga perlu karyawan. Artinya, mau jadi pengusaha atau karyawan, itu pilihan. Kaya dapat ditempuh melalui jalan mana saja asal halal. Sebut saja perencana keuangan Safir Senduk. Dalam bukunya, “Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya!” Safir berusaha mematahkan dominasi pengusaha dalam hal persepsi orang terhadap jalan menuju pada kebebasan finansial. Kaya bukan lah hanya soal peran seseorang dalam ekonomi suatu negara, jadi karyawan atau pun pengusaha, keduanya tetap lah mampu mengumpulkan pundi-pundi kekayaan menuju status bebas secara finansial. Hanya memang, ada benang merahnya bagaimana proses menuju itu. Istilah saya mungkin, “Jadilah karyawan yg bermental pengusaha!”
PARADIGMA DIRI
Kalau sudah memilih berprofesi jadi karyawan, jadilah karyawan yg baik, prestatif dan produktif. Kata Iman Supriyono (2006), “Jangan sampai merasa rumput di pekarangan tetangga kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.” Sampai-sampai Iman memberikan anekdot cerita Abu Nawas yang kocak untuk menggambarkan ketidakperluan persepsi seperti itu. Menurutnya, di dunia ini Allah selalu menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Ada pria ada wanita, ada hitam ada putih. Begitu juga ada pengusaha ada pula karyawan. Manusia, ada yg dalam dirinya mengalir “bakat” karyawan ada pula yg lebih sreg menjadi pengusaha. Tidak ada yg lebih baik dan lebih buruk dalam hal ini. Lagipula Allah tidak memandang baik dan buruknya manusia dari kekaryawanan atau kepengusahaannya, bukankah Dia hanya memandang dari derajat ketakwaannya semata. Nah, Herry Tjahjono (2008) menganggap permasalahan paradigma lah yang jadi akar masalah. Karyawan yang memiliki paradigma negatif tentang diri dan profesinya lah yg menghasilkan pen-dikotomi-an kedua istilah tersebut. Karyawan macam beginilah yg akan selamanya menjadi “orang gajian” dan tidak bisa kaya. Yah jadinya benar saja, “Kalau mau kaya jadilah pengusaha!”
Lalu apa sebenarnya yg dimaksud dgn paradigma negatif ttg karyawan? Menurut Herry, sering sekali muncul pernyataan seperti “Ah kita kan cuma karyawan!” karyawan adalah profesi yang apa adanya saja. “Rejekinya kan cuman segitu. Diterima aja lah!” mungkin ingin mengikuti pitutur orang Jawa, nrimo ing pandum. Menerima apa yang diberikan Tuhan. Ini tidak salah, tapi bukankah lebih menguntungkan kalau mau mengikuti nasihatnya Mario Teguh dalam salah satu ceramahnya di Asrama Haji Surabaya, “Kita harus nrimo ing pandum dalam hidup ini Pak, Bu. Tapi tempatkan diri Anda pada posisi yang pandum-nya besar biar Anda nrimo pandum yg besar!” Herry berpendapat, menjadi karyawan bukan lah pilihan yang salah dalam karir. Mereka bisa berkarya, berprestasi, mengharumkan nama bangsa, dan juga bisa kaya! Karyawan mestinya mendorong dirinya untuk menjadi karyawan yg luar biasa. Karyawan macam ini selalu merasa ingin tahu, tidak cepat puas dgn pencapaian dan selalu melihat dan memerhatikan the best in me dlm dirinya.
Metode DAHSYAT yang dipakai Herry Tjahjono sebenarnya ditulis dengan susunan seperti ini : DaHSyaT, akronim dari “Derap, limpaH, Syukur, dan pikaT”
Lahirnya keempat konsep ini diilhami adanya hukum2 yg terjadi di alam, salah satunya irama yg mengiringi perjalanan alam semesta. Semua fenomena berawal dari energi yang mengandung irama tersembunyi namun dahsyat. Perhatikan terbit dan tenggelamnya matahari, datang dan perginya bulan, deburan ombak sambung-menyambung di samudera raya, malam yg diikuti siang – semuanya adalah derap atau irama yg menunjukkan bagaimana semua ciptaan di bumi itu berjalan atau berlangsung. Jadi, segala sesuatu beroperasi, berlangsung oleh derap dan irama (hal48). Seperti kita yg merintis usaha, apa yang biasanya terjadi? Produk tidak diterima pasar, sulit menciptakan inovasi, kehabisan ide, dan sebagainya. Akhirnya gagal. Apakah berarti tamat? Jawabannya tergantung pada diri kita sendiri, apakah akan tetap jalan ataukah berhenti saja karena kehabisan tenaga. Berhasilnya usaha tidak selalu karena bagusnya produk bukan? Tekunlah kuncinya. Ya sama saja dgn jadi karyawan. Awalnya sulit adaptasi, lambat belajar, tidak cocok dengan rekan kerja dan atasan, suasana kerja tidak menyenangkan, dan seterusnya. Pilihan ada pada kita apakah akan terus atau berhenti saja. Mungkin saat itu kita memang harus berhenti, itu pilihan, Anda yg tahu kondisinya. Tetapi maksud saya mungkin saja pada waktu itu Anda hanya belum menemukan irama saja, sehingga saat itu sebenarnya terlalu dini bagi Anda memutuskan quit dari pekerjaan tersebut. Hidup ada iramanya, begitu pula dengan pekerjaan. Di tengah pekerjaan pun akan demikian, akan ada saatnya menikmati sekali perjalanan yang dilakukan, ada pula saatnya Anda merasa sangat jenuh. Herry bilang, “Jangan melawan irama, sebab hanya akan melelahkan sementara hasilnya belum tentu sesuai dengan yang diharapkan.” Ini metode pertama, DERAP!
Lalu pesan apa yg ingin dihantarkan melalui metode yang kedua, LIMPAH? ini mengingatkan saya pada sebuah nasihat, “Jangan terlalu fokus pada apa yang kita inginkan, fokuslah pada apa yang kita miliki.” menurut saya nyambung dgn pesan yg ingin disampaikan Herry yg menyebutnya dengan Hukum Kelimpahan atau Law of Abundance. Stephen Covey menyebut dengan istilah abundance mentality (mentalitas kelimpahan) untuk bersanding dengan mentalitas lain yang juga sering dimiliki manusia, yaitu scarcity mentality (mentalitas kekurangan). Ini sama sekali tidak berkaitan dengan materi. Seseorang yang meskipun kaya secara materi tidak selalu otomatis kaya secara mental. Karyawan yang bila saat ini belum kaya secara materi, tetapi sudah kaya dalam mentalitas, tinggal tunggu waktu saja untuk mencapai kekayaan di sisi materi. Bagaimana dgn mentalitas kelimpahan, apa yang bisa dirubah dengan memiliki mentalitas seperti itu? Banyak sekali. Contoh yg paling mudah barangkali adalah dalam hal kejujuran. Karyawan yg bermental limpah tidak akan merasa perlu mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk kepentingan pribadi. Bukankah ini sangat menguntungkan perusahaan? Dengan mental seperti ini seseorang akan selalu merasa bahagia atau minimal tidak akan lama recovery bila pada suatu ketika ia mengalami kegagalan. Ia berprinsip, “Uang mungkin saja diserobot, tapi rizki tidak akan bisa jadi rebutan. Kalau Tuhan sudah menghendaki tidak akan kemana-mana.”
Di sini Herry menganjurkan untuk menekuni prinsip creation (kreasi, mencipta) daripada selalu berkonsentrasi pada competition (kompetisi). Kreasi, menurut Herry, mengacu pada kelimpahan, sedangkan kompetisi berpijak pada mental kekurangan. Setuju atau tidak Herry mengajak kita untuk selalu mencipta atau melakukan hal yg sama dengan cara yang baru. Berkreasi.
Lalu SYUKUR. Hal yg paling sering dibicarakan orang. Selain karena memang ada dalam anjuran semua agama, kandungan nilai yang ada juga teramat tinggi. Dalam Al-Quran ada beberapa ayat yg memerintahkan umat manusia untuk tidak melupakan syukur, antara lain, “Maka ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan jangan mengingkari (nikmat)Ku.” (QS. Al Baqarah :1).
Dalam ayat yang lain, “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Tak kurang dalam hadist pun dituntunkan, “Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur.” (HR. Al Baihaqi) sebegitu pentingnya bukan, hingga syukur ini menjadi penanda kualitas iman seseorang.
Menurut Herry, hukum syukur yang berasal dari law of gratitude adalah sebuah hukum alam pula, yang sangat halus namun paling tinggi kualitas kekuatan sekaligus kedahsyatannya. Wallace D Wattles mengatakan, sesungguhnya seluruh proses penyelarasan diri terhadap alam semesta dapat diringkas, bermuara pada satu kata, yaitu : Syukur! (hal 96). Ini adalah kelanjutan dari metode limpah. Limpah mengingatkan kita akan adanya sumber daya tak terbatas di alam semesta yang disediakan Tuhan untuk semua makhluk. Artinya tidak mungkin Tuhan membiarkan hambaNya sengsara dan mati kelaparan selama ia masih mau ikhtiyar mencari sumber rizki. Syukur mengajarkan kita untuk tidak lupa berterimakasih kepada Tuhan yang melimpahkan rizki tak terkira selama kita hidup. Dengan syukur niscaya nikmat pun akan ditambah, lagi dan lagi. Sementara bila kita melupakannya, maka Tuhan memberikan ultimatum pada manusia dengan ancaman yang teramat pedih. Bila mentalitas kelimpahan membuat seseorang merasa selalu cukup dan membuatnya senantiasa ingin memberi dan memberi kebaikan pada yg lain, syukur ibarat kabel yg mampu menghubungkannya dgn Tuhan.
“Syukur itu ibarat “kabel” yang mampu menghubungkan seorang hamba dengan penciptanya.”
Bagaimana bila seorang karyawan mampu mensyukuri profesinya? Tentu saja efeknya sangat positif. Ia yg mampu bersyukur akan selalu bekerja dengan penuh gairah karena merasa profesi itu adalah anugerah Tuhan yang harus ia jaga dan laksanakan. Ia akan selalu mampu mengambil hikmah dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan dan pekerjaannya. Sesuatu yang ia dapatkan, sekecil apapun, tak akan lupa ia syukuri. Ia akan berusaha bekerja dengan penuh dedikasi dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut perusahaan.
Dan terakhir, PIKAT. Yang mendasari hukum ini adalah The Law of Giving (hukum memberi). Alangkah indahnya bila di dunia ini semua orang menerapkan hukum ini. Alam semesta juga menerapkan hukum ini. Amati, setiap pagi alam semesta berusaha memikat kita dengan sinar mentari yang hangat, embun yang dingin, hembusan angin yang sejuk menerpa. Tuhan juga selalu memberi pada hambaNya tanpa sama sekali mengharap balas jasa. Ya, Dia memang maha memberi, memberi tidak untuk menerima. Bila kita mampu menyelaraskan diri dengan Tuhan dan alam semesta dengan memberi tanpa mengharapkan sesuatu, maka kita akan menerima sesuatu secara tidak disengaja dan tak terduga. Inilah hukum pikat. Kita seakan sedang memikat orang lain yang kemudian akan terbalaskan dengan adanya sesuatu yang datang pada kita. Alam akan bekerja dengan sendirinya untuk memberikan sesuatu pada kita dengan balasan yang lebih banyak.
salam hangat,..
Recent Comments