Lulus, Mau jadi Karyawan atau Ngrintis Usaha?

Manajemen dan Bisnis Add comments

Dibanding bbrp teman yg sejalur dalam hal berbisnis, berwirausaha, Sofyan merasa jadi orang yang paling tidak konsisten. Tidak konsisten dalam hal niatan wirausaha. Dia lulus dari perguruan tinggi beberapa tahun lalu dengan nilai yang tidak mengecewakan, cukup-cukupan lah! Debatable sih ya berapa ukurannya, tapi dia puas dengan pencapaiannya itu. Tapi ada satu hal yang bikin dia bingung akhir2 ini. Sudah nyaman sebenarnya dengan wirausaha, hal yang ia tekuni semenjak di bangku kuliah. Ia bisa menyalurkan potensinya dengan maksimal. Mungkin sama dengan byk pengusaha pemula yg lulusan perguruan tinggi, ia juga bergerak di bidang yg tidak sejalan dengan bidang keahliannya yang lulusan Teknik Sipil. Sebenarnya gak masalah kok! Nyatanya dia mampu saja memegang amanah yang disandangnya. Hanya saja akhir2 ini entah mengapa dia merasa kangen dengan “profesi” lamanya itu, Ketekniksipilan. Tapi sebenarnya bukan itu penyebab utamanya. Dia bertanggung jawab menanggung biaya pendidikan adiknya yang sedang menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Gimana nurut Anda, apa yg sebaiknya dilakukan Sofyan? Sekarang ini dia berpikir-pikir untuk ‘pindah jalur’ profesi, balik lagi ke Teknik Sipil. Bagaimana caranya? Tentu saja, yang ia pikirkan sekarang adalah dengan applying job ke beberapa perusahaan.

Hal seperti ini menjadi permasalahan yang mengitari teman2 yg memulai usaha dari kecil selepas kuliah. Tetap komitmen dengan keputusannya, ataukah kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dan kembali ke jalur yang “semestinya.” Mengundurkan diri dalam arti memutuskan melepaskan diri dari entrepreneur dan menekuni pekerjaan di bidang yang dia pelajari semasa kuliah. Nah ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan apakah teman2 ingin memutuskan berkarir sebagai karyawan selepas lulus kuliah, berwirausaha, atau ingin cari modal dulu untuk berwirausaha.

  • Kenali Potensi Diri

Teman2 yg aktif dalam kegiatan2 organisasi pasti tidak akan terlalu kesulitan dalam hal ini. Ini yg seringkali jadi kendala, bahkan bagi mereka yang tidak kerasan dengan pekerjaan lamanya dan berniat hengkang. Satu pertanyaan yang seringkali jadi momok adalah ttg pengenalan potensi diri. Jawaban argumentatif tentu akhirnya mampu mereka kemukakan, tapi bukan kah akan jadi bumerang saat akhirnya mereka diterima di tempat yg bersangkutan. “Memanipulasi” potensi diri demi memburu pekerjaan yang mereka tahu tak mereka sukai. Bayangkan bakal butuh berapa puluh tahun hingga mereka menyadari telah membuang waktu percuma. Nah bagi Anda yang masih berkutat dengan matakuliah, jangan biarkan waktu luang terlewat terlalu banyak, sempatkan untuk menggali dan memahami potensi diri. Investasi waktu tersebut akan Anda rasakan benar-benar nanti dalam kehidupan.

  • Apa Hobi Anda

Barangkali ada yang tidak asing dengan istilah “Uang Datang dari Waktu Luang.” Bagaimana menurut Anda, apa yang sering Anda lakukan untuk mengisi waktu luang? Waktu di sela-sela kuliah, hari libur, atau akhir pekan? Menyalurkan hobi bukan! Kebanyakan kita akan memanfaatkan waktu luang semaksimal mungkin dengan melakukan apa yang menjadi kesukaan kita, alias menekuni hobi. Tidak masalah apa jenis hobinya. Jalani saja, siapa tahu rizki Tuhan datang melalui dia. Tengok deh Kolonel Sanders yang hobi masak dari kanak-kanak dg bisnis KFC-nya, David Beckham yg hobi maen bola dengan ketenarannya sekarang, JK Rowling yg hobi nulis dengan Harry Potter-nya. Mereka semuanya jadi milyarder dari hobi. Ya dari waktu luang itu! Bagaimana bila memutuskan jadi karyawan? Tentu dg memahami hobi Anda jadi lebih mampu menentukan jenis pekerjaan apa yang paling pas untuk Anda. Bagaimana?

  • Kerja untuk Siapa?

Ini bukan pertanyaan utopis lo! Tentu saja kerja kita untukNya, sebagai manifestasi ibadah, kewajiban kita sebagai seorang hamba. Kerja kita juga untuk membalas kebaikan orang tua yg telah berjuang keras membesarkan dan mendidik kita dengan susah payah! Yah itu sudah
inheren dengan jawaban yg saya inginkan dari pertanyaan tadi. Begini, tolong diingat2 Anda dulu kuliah atas biaya siapa? Jangan salah, ada beberapa dari kita yang kuliah bukan atas biaya orang tua, tapi dari beasiswa misalnya. Saking nekatnya mereka ingin kuliah sementara ortu tidak mampu dari sisi finansial. Makan super ngirit dengan menu mi dan gorengan seumur2, udah mending kalo pulang dibekali ikan asin sak plastik, hihi! Sementara selepas lulus mereka ingin juga membahagiakan ortu. Pengin nikah juga. Kadang pula ortu ingin mereka membantu biaya kuliah saudara yang lebih muda. Nah pada posisi seperti itu tentu Anda harus mempertimbangkan apakah akan berwirausaha ataukah bekerja saja. Wirausaha tentu adalah pilihan mulia, tapi sekedar Anda ingat, sukses berwirausaha tidak mungkin dicapai dalam waktu sekejap! Memungkinkan kah bila usaha itu sedang dalam tahap merintis dengan pendapatan yang tentu tidak tinggi sementara Anda harus mengeluarkan sekian rupiah untuk SPP adik, misalnya. Tentu Anda sendiri yang mengerti situasinya. Kelebihan yang mungkin Anda dapat bila bekerja adalah pendapatan yang pasti dan bisa dijagakne.

Lebih panjang lagi tentang wirausaha akan kita diskusikan di lain kesempatan.

  • Sadari Peran Anda

Sebagai apapun, Anda sedang memainkan peran memutar roda ekonomi negara. Peran yang tidak sederhana tentu, karena itu selayaknya pula Anda jalankan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Nah dalam hal pemilihan profesi, sebagai karyawan di perusahaan atau kah berwiraswasta, Anda juga harus memenuhi konsekuensi logis yg mengikuti keputusan Anda memilih profesi. Seperti banyak orang, Anda ingin menjadi sosok (karyawan atau pengusaha) yang tidak biasa2 saja kan! Nah pertama, Anda harus memahami bahwa untuk jadi yang tidak biasa2, karyawan harus rajin menabung untuk kemudian dijadikan bisnis yang dikerjakan orang lain. Ingat! dikerjakan orang lain sementara Anda sendiri fokus dg pekerjaan. Sedangkan bila sebagai pengusaha, Anda harus berani berhutang! Tentu saja tidak ada yang lain selain untuk pengembangan bisnis.
Kedua yang perlu Anda pahami, tidak ada yang lebih unggul apakah memilih menjadi karyawan ataukah merintis usaha. Dua2nya baik. Dua2nya dibutuhkan dalam perekonomian. Yg paling penting adalah dedikasi dan tanggung jawab serta kejujuran. Karyawan dan pengusaha itu ibarat two sides of a coin, kata Herry Tjahjono (2008). Mereka saling melengkapi satu sama lain, saling membutuhkan.

salam hangat..

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login