Pukul Balas Pukul!

Eureka!, Hikmah Add comments

Pukul Balas Pukul!

Jo lagi JJS, jalan-jalan santai. Jalan-jalan sore. Memang hujan sudah mulai mau kompromi, sedikit reda. Masak deres banget mengguyur sejak tadi pagi. Yah paling tidak kan hujan rintik-rintik begitu lebih pas dengan suasana hatinya yang lagi berbunga-bunga. Tapi aneh memang, meski rintik-rintik kan bikin basah juga! Masak JJS di tengah hujan. Dasar aneh! Gak tau apa yang bikin dia begitu gembira sore itu. Yang pasti si Jo, nama lengkapnya Bejo Bejaning Lanang, pringas-pringis saja sepanjang jalan. Berharap sore itu namanya mengundang tuah.
Nyatanya Jo sedang tak mujur, sebuah mobil kijang hijau gelap melesat kencang di sampingnya dari arah belakang. Entah sedang mengejar deadline rapat atau lagi kebelet, si pengemudi cuek aja saat ban mobilnya menggilas genangan air yang hanya beberapa puluh senti saja dari Jo. Jadi deh, satu jam lima menit waktu yang ia habiskan untuk mematut-matut diri di depan kaca rautan pensil sia-sia saja. Si air genangan sukses merangkulnya, mengubah seketika penampilannya yang tadi sudah pas-pasan jadi makin berantakan. T-shirt putih bergambar Einstein yang setengah mati ia tawar seminggu lalu di DTC lantai bawah penuh dengan bercak air di mana-mana.
Jo misuh-misuh! Binatang seisi kebun binatang habis ia luapkan, mulailah ia mencari-cari nama binatang piaraan tetangga kosnya. “Pithik..!” umpatnya dengan emosi yang tekanannya masih kelewat jenuh. Kalau saja mau berhenti, tentu sudah ia lipat-lipat hidungnya! JJS.. jalan-jalan sial!
—————–
Bila dalam tulisan sebelumnya kita pernah mengupas Hukum Newton yang pertama, maka mari kita ingat bagaimana kira-kira bunyi hukumnya yang ketiga? Kalau tidak salah ingat, Hukum III Newton bunyinya begini :

“Bila pada benda bekerja sebuah gaya ke arah tertentu (aksi), maka akan timbul gaya sama besar yang arahnya berlawanan (reaksi).” Dalam bahasa Fisika disimbolkan dengan
‘Faksi = - Freaksi’

Menilik hukum ini, tentu wajar saja reaksi si Jo. Dapat tinju, balas tinju. Tendang balas tendang, dapet air pun balas umpatan. Stimulus datang, saat itu pula respon kemudian muncul. Islam memberikan panduan hukum-hukum yang mampu mengakomodasi hal ini, mengijinkan kita melakukan hal serupa yang ditimpakan orang lain pada kita. Konsep Qishash dalam fikih adalah salah satu contohnya, seorang muslim diijinkan menuntut mati muslim lain yang bersalah mengakibatkan kematian pada sesamanya. Namun di sini ada yang mesti diberi garis bawah, yakni pembalasan haruslah imbang dengan tingkat kesalahan. Sekali lagi, pukul balas pukul dan tendang balas tendang. Tidak dibenarkan yang seperti ini : “pembalasan lebih kejam daripada perbuatan.”
Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman : “..oleh sebab itu barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 194)
Dalam ayat yang lain, “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), maka pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj 60)
Dalam ayat lain, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl 126)
Dari ayat terakhir ini ternyata Islam menawarkan solusi yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu : memaafkan. Jadi untuk kita umat muslim boleh-boleh saja membalas apa yang ditimpakan pada kita, tidak berdosa. Tetapi dengan memaafkan, kita dijanjikan derajat tersendiri olehNya. Tentu saja memaafkan memang tidak mudah karena membutuhkan kelapangan dada dan sabar yang luas. Lalu bagaimana caranya kita bisa mendapatkan kelapangan dada atau kesabaran tersebut?
Pertama, sabar adalah sesuatu yang dapat diusahakan. Manusia umumnya memang cenderung tidak sabaran. Mula-mula sebelum mengenal pendidikan (formal maupun nonformal) cenderung memberi reaksi dengan marah dan mengumpat-umpat sebagai ungkapan suasana emosinya. Seiring berjalannya waktu dan semakin baiknya pendidikan maka manusia kemudian menjadi semakin dewasa (sabar) memberikan reaksi pada setiap peristiwa. Inilah sabar yang diusahakan, yaitu dengan pendidikan.
Bila setelah mendapatkan aksi selalu muncul reaksi yang besarnya sama dengan arah yang berkebalikan, maka sebenarnya tidak lah mesti begitu dengan diri kita. Yah paling tidak manusia adalah makhluk yang dikaruniai akal dan otak yang sempurna, yang mampu menakar semua resiko dari setiap tindak-tanduk. Konsep yang berlaku, menurut para ahli, adalah : “Ada ruang yang tersedia antara stimulus yang datang dari lingkungan dengan respon yang kita berikan.” Nah seberapa lebar atau seberapa luas ruang itu, tergantung dari pendidikan yang sudah kita kenyam. Pendidikan seperti yang saya tuliskan di atas, penanaman nilai dari keluarga, sekolah, dan tempaan masalah dalam kehidupan. Semakin baik pendidikan maka makin lebar pula lah ruang itu. Jo mungkin bisa senyum meski kaosnya belepotan air begitu. Artinya begitu banyak pilihan yang ada yang dapat ia ambil daripada hanya sekedar marah saja.
Kedua, sabar haruslah dimintakan pada Allah. Sesabar-sabarnya kita, pasti ada satu titik dimana emosi kita mungkin terlentik. Kata orang, “Kesabaran ada batasnya!” nah pada tahapan ini, kita harus meminta kesabaran diturunkan dari Dia yang Maha Sabar. Bukan minta sabar hanya pada saat emosi sudah di ubun-ubun, kesabaran haruslah dimintakan setiap saat dalam zikir-zikir. Kesabaran macam ini seperti kisah pada jaman Nabi Daud AS pada saat balatentara Raja Thalut dalam keadaan terdesak yang diceritakan dalam Al-Quran :
Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa : ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami atas orang-orang yang kafir.’” (QS. Al-Baqarah 250)
Dalam hadist juga dituntunkan, “Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan. (HR Imam Thabrani). Dalam hadist lain, “Barangsiapa diuji lalu sabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al Baihaqi)

Membalas dengan hal (balasan) yang setimpal dibenarkan dalam Al-Quran, tetapi memaafkan adalah jalan terbaik yang ditunjukkan oleh Allah SWT bagi kita.

———-
Pergi dengan dada tegak, Jo melangkah pulang dengan dagu tertunduk. Lemes, sebel, dan marah campur aduk jadi satu kayak es dawet. Langkahnya berat setengah terseret, lunglai seperti sayuran yang gak keburu dimasak. Darahnya masih panas mengingat peristiwa barusan, sedih juga mendapati keadaan dirinya yang memprihatinkan gitu. Tapi beberapa saat kemudian, mulutnya mendesah pelan, “Astaghfirullah..”
Ya, ia sadar keadaannya sungguh masih jauh lebih baik saat ini. Ngeri juga membayangkan berita-berita kecelakaan yang setiap hari menghiasi koran metropolis. Renungannya kemudian menyadarkannya, bukan kah sesungguhnya semua peristiwa itu netral? Kita sendiri lah yang seringkali menghiasinya dengan emosi-emosi yang kita bumbukan sendiri. Emosi itulah yang membuat setiap peristiwa menjadi ada warnanya, hijau, biru, kuning, pink, atau bahkan tidak berwarna samasekali.
Kecipratan juga masih mending dari pada ketabrak! Yah.. “Masalah kita nyatanya nampak lebih kecil bila kita mampu menempatkannya dalam konteks (masalah) lain yang lebih besar. Bukankah besar dan kecilnya masalah itu juga kita sendiri yang menyematkan ukuran?” kalimat itu ia ingat dari bukunya Arfan Pradiansah yang pernah ia baca sewaktu kuliah dulu..
Wallahu a’lam.

salam hangat,..

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login