Gimana nggak sebel coba! Lagi asyik-asyiknya nulis, ke-interupsi, trus kehilangan arah tulisan. Udah berusaha mati-matian mengingat-ingat, gak berhasil juga. Padahal interupsinya adalah sesuatu yg mulia, yak waktunya Ashar. Tapi ya itu tadi, sebelnya pas balik lg ke dpn kompi, komputer maksudnya, bengong sendiri coz bingung nggak ngerti mo nulis apa.
Padahal otak kita sebenarnya nggak ada tandingannya dalam banyak hal. Ia tidak membaca tulisan dg huruf per huruf, tetapi kata demi kata asal letak huruf awal dan akhirnya tetap. “oatk” tetap bisa kebaca “otak” oleh otak kita. “Dndiing itu tbuerat drai btau btaa” bisa tetap kebaca “Dinding itu terbuat dari batu bata.” Hebat kan?
Dalam hal nyimpen memori, nggak ada yg ngalahin kinerja otak. Ia mampu menyimpan hingga 1011 (seratus triliun) byte, kata John Griffith, ahli Matematika. John Von Neumann yg ahli informasi malah berpendapat sampe 2.8 x 1020 (280 kuintiliun) byte, dsb (J Rahmat, 1985). Untuk menghapal urutan angka dalam waktu beberapa detik, otak memang hanya bisa mengingat maksimal 7-8 digit, atau 7 plus minus dua digit. Misalnya “589764”, bisa kita ingat meski hanya beberapa saat kita baca. Coba bila angkanya “2430121965.” Otak kita kesulitan mengingat kan? Tapi tunggu dulu, meski demikian otak kita mampu melakukan peng-kodean Choi! Kita mungkin nggak ngrasa ya waktu berusaha membacanya dengan “2430-12-1965”, misalnya. Dengan cara begini kita terbantu mengingatnya dengan lebih mudah. Trus, apa yg terjadi dg saya barusan. Gimana sih fungsi dan cara kerja otak untuk manggil memori, kok bisa ada kejadian kayak gitu?
Semua yg kita lakukan, dan hapalkan kali ya, sebenernya tetap disimpan dg rapi dalam otak kita ini. Nah waktu ada kejadian seperti di atas, kita seringnya nyangka bahwa memori itu sudah sama sekali lost dari otak kita. Padahal enggak lo! Otak memiliki mekanisme tersendiri bagaimana caranya mengambil kembali memori yg sudah kita tanam beberapa menit yg lalu, seminggu, setaun, atau bahkan puluhan taun silam.
Pertama adalah recalling atau pengingatan. “Buku sejarah kamu taruh dimana, Di?” adalah contoh recalling. Pengingatan adl proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim (kata demi kata), tanpa petunjuk yg jelas.
Recognition adl cara kedua yg digunakan otak dlm usaha memanggil memori. Bila susah mengingat sebuah fakta, maka cara inilah yg digunakan. “Siapa gubernur jatim skrg?” lebih susah dijawab daripada “siapa gubernur jatim skrg? – imam utomo atau basofi sudirman.”
Relearning
Bila kedua proses awal di atas tidak mampu memanggil memori yg sudah tersimpan, maka otak perlu melakukan relearning atau belajar kembali.
Redintegration
Inilah proses terakhir yg mrpk rekontruksi seluruh memori masa lalu berdasarkan suatu petunjuk kecil. Petunjuk ini bisa berupa apa saja, seperti : bau, warna, atau tempat. Ada nggak yg prnah ngerasa sesuatu ketika mendengar lagu tertentu? Sedih karena teringat teman lama yg kini entah ada dimana, misalnya. Inilah contoh redintegration. (Jalaluddin Rahmat, 1985).
Tuh, hebat kan? Sampe sini dulu ya. Saya masi belon bisa ngingat kata kunci yg mau saya tulis sblm sholat Ashar tadi. Coba deh saya ingat2 lagi..:o)
Salam,
Khoirul Azis R
March 2nd, 2008 at 9:14 pm
Subhanallah, dasyat otak kita karunia Allah yang tidak bisa di bandingkan dengan memori2 butan manusia.
patut disyukuri nikmatNya ini dengan menggunakan otak kita tuk memikirkan ayat-ayat Allah yang ada di alam.
March 17th, 2009 at 3:54 pm
saya mengalami kesulitan dalam mengingat waktu kejadian yang telah lalu, seprti saya sangat ingat pertama kali dibeli sepeda sama ayah tetapi kesulitan dalam mengingat kapan itu terjadi, berapa umur saya saat itu, ataupun tahun nya, kalo hal yang semacam ini bagaimana pemecahannya ya? tolong bantuannya donk