Saat mengerat tulisan ini, saya baru saja selesai membaca artikel Kompas (Sabtu, 28/2) yang ditulis oleh seorang guru besar sebuah universitas di Jawa Tengah. Isinya adalah tentang betapa pentingnya menggunakan bahasa secara tepat, tidak hanya tepat makna tetapi juga tepat dalam konteks. Konteks tempat, budaya, hingga level pendidikan. Tulisan itu masih sedikit beliau kaitkan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) 21 Februari lalu.
Awalnya begini, maksud saya menulis ini, adalah berangkat dari kegelisahan saya bilamana mendengar seseorang menyapa orang lain dengan panggilan, yang menurut saya ‘asal’, seenaknya. Dan juga kesalutan saya atas kejiwabesaran sang obyek panggilan yang menanggapinya dengan senyum dan santai-santai saja. Entah senyum itu tulus tanpa menyimpan sakit hati sama sekali ataukah juga ngempet! Paling tidak, menurut saya, si dia ini sabar banget.
Begini saudara, Anda tentu paham bahwa memanggil itu adalah salah satu bagian penting dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Pemula dan mungkin pula termasuk yang utama. Read the rest of this entry »
Alkisah, Kasrun sedang menekuri jalanan dengan sepeda jengki antik kesayangannya. Ada dua alasan penting baginya tidak perlu banyak longak-longok lihat ke depan, samping kiri dan kanan. Pertama, jalanan menuju tempatnya mencari nafkah tidak ramai karena memang jalanan kampung. Kedua, ini yang menurutnya penting, “wa laa tamsyi fil ardhi marohaa.. dan jangan berjalan di muka bumi ini dengan kepala mendongak” kira-kira begitu maksud ayat suci yang ia pahami. Yah siapa tau pula nemu duit, lagian nggak mungkin duit orang jatuh di atap rumah, pikirnya.
Dan, keberuntungan memang sedang mengintipnya. Matanya beradu pandang dengan wajah I Gusti Ngurah Rai pada lembaran duit warna biru. Awalnya bimbang pula ia dibuatnya, tetapi akhirnya duit itupun lenyap seiring putaran roda sepeda jengkinya. Read the rest of this entry »
Jo lagi JJS, jalan-jalan santai. Jalan-jalan sore. Memang hujan sudah mulai mau kompromi, sedikit reda. Masak deres banget mengguyur sejak tadi pagi. Yah paling tidak kan hujan rintik-rintik begitu lebih pas dengan suasana hatinya yang lagi berbunga-bunga. Tapi aneh memang, meski rintik-rintik kan bikin basah juga! Masak JJS di tengah hujan. Dasar aneh! Gak tau apa yang bikin dia begitu gembira sore itu. Yang pasti si Jo, nama lengkapnya Bejo Bejaning Lanang, pringas-pringis saja sepanjang jalan. Berharap sore itu namanya mengundang tuah.
Nyatanya Jo sedang tak mujur, sebuah mobil kijang hijau gelap melesat kencang di sampingnya dari arah belakang. Entah sedang mengejar deadline rapat atau lagi kebelet, si pengemudi cuek aja saat ban mobilnya menggilas genangan air yang hanya beberapa puluh senti saja dari Jo. Jadi deh, satu jam lima menit waktu yang ia habiskan untuk mematut-matut diri di depan kaca rautan pensil sia-sia saja. Si air genangan sukses merangkulnya, mengubah seketika penampilannya yang tadi sudah pas-pasan jadi makin berantakan. T-shirt putih bergambar Einstein yang setengah mati ia tawar seminggu lalu di DTC lantai bawah penuh dengan bercak air di mana-mana.
Jo misuh-misuh! Binatang seisi kebun binatang habis ia luapkan, mulailah ia mencari-cari nama binatang piaraan tetangga kosnya. “Pithik..!” umpatnya dengan emosi yang tekanannya masih kelewat jenuh. Kalau saja mau berhenti, tentu sudah ia lipat-lipat hidungnya! JJS.. jalan-jalan sial! Read the rest of this entry »
Iseng nulis sambil dengerin Bimbo..Refleksi perjalanan hidup hingga detik ini, rekaman jejak pertempuran sekaligus terkadang rekonsiliasi antara saya dengan ambisi, yg kadang saya persalahkan karena sering bikin stress dan di saat lain pula harus terus saya emong karena dengan bersanding dengannya pula lah tenaga dan spirit hidup tetap menyala di tengah terjangan salju pesimis yg menusuk-nusuk, halah!
Gimana enggak, sarjana teknik dari perguruan tinggi negeri harus berkutat dg banyak hal yg sama sekali nggak nyambung! Read the rest of this entry »
Udah pada tau kan, kalo mau tepat dapetin pemecahan masalah, rumusnya kita kudu netral dulu dari masalah, seperti postingan saya terdahulu di “Tenang diri bening hati saat naik melayang tinggi..” Yg pernah saya contohkan, analoginya persis dg waktu asik nonton tim (bola) kesayangan kita lagi tanding. Enak aja kita mencak2 dan mengumpat gak karuan, bodoh2in pemain, “Sh#*! Gitu aja gak masuk!” seolah2 kita ini pelatihnya, atau pasti lebih baik kalo turun sendiri ke lapangan. Padahal?Kita saat itu dalam posisi netral, gak terlibat langsung dg emosi yg penuh menekan para pemain di lapangan. “Gak gol”-nya mereka itu kan dilatarbelakangi banyak alasan, mulai dari, misalnya, perseteruan dg ofisial klub beberapa jam sebelum maen, atau misalnya pertengkaran dg istri yang masih saja menggelayuti pikiran, yg jadinya mengganggu konsentrasi. Tapi sebagai penonton kita mana tau. Tapi pelajarannya, kita mudah saja melihat masalah kalo gak terlibat, alias ada di luar sistem. Zen menasihatkan, “Untuk melihat gambar, keluarlah dari gambar!” Read the rest of this entry »
Gimana nggak sebel coba! Lagi asyik-asyiknya nulis, ke-interupsi, trus kehilangan arah tulisan. Udah berusaha mati-matian mengingat-ingat, gak berhasil juga. Padahal interupsinya adalah sesuatu yg mulia, yak waktunya Ashar. Tapi ya itu tadi, sebelnya pas balik lg ke dpn kompi, komputer maksudnya, bengong sendiri coz bingung nggak ngerti mo nulis apa.
Padahal otak kita sebenarnya nggak ada tandingannya dalam banyak hal. Ia tidak membaca tulisan dg huruf per huruf, tetapi kata demi kata asal letak huruf awal dan akhirnya tetap. “oatk” tetap bisa kebaca “otak” oleh otak kita. “Dndiing itu tbuerat drai btau btaa” bisa tetap kebaca “Dinding itu terbuat dari batu bata.” Hebat kan?
Dalam hal nyimpen memori, nggak ada yg ngalahin kinerja otak. Ia mampu menyimpan hingga 1011 (seratus triliun) byte, kata John Griffith, ahli Matematika. John Von Neumann yg ahli informasi malah berpendapat sampe 2.8 x 1020 (280 kuintiliun) byte, dsb (J Rahmat, 1985). Read the rest of this entry »
Saya punya seorang kawan yang tak pernah melewatkan lembar-lembar harinya tanpa sesungging senyum. Benar-benar tak ada habisnya. Heran juga bagaimana ia selalu bisa tersenyum, bahkan pada saat sedang tertimpuk musibah, saat kami mengalami masa-masa sulit bersama. Senyum itu juga tetap lekat padanya.
Pada suatu kesempatan, akhirnya sempat saya beranikan diri bertanya. “Mungkin saja kaca mata yang kita gunakan berbeda. Coba kau ganti kaca matamu,” jawabnya.
Agak bingung juga mendengar jawaban se”simple” itu. Mengganti kaca mata?
Selang beberapa waktu kemudian saya akhirnya ngeh dengan maksudnya. Teringat satu cerita dari ”Life is Beautiful”nya Arvan Pradiyansah, tentang seorang raja yang menderita sakit yang teramat parah dan lama sekali tak ditemukan obat penyembuhnya. Bertahun-tahun sudah, beribu-ribu tabib didatangkan untuk kesembuhan, tapi tak kunjung ketemu. Hingga akhirnya di pelosok negeri, tersebutlah seorang tua yang memberi mereka sebungkus ramuan sambil menitipkan pesan pada keluarga raja untuk membuat apapun yang dilihat sang raja menjadi berwarna hijau.
Untuk mengawali tulisan ini, tak bijaklah kiranya bila saya tak lebih dahulu menghaturkan mahkota terimakasih yang teramat mulia pada seorang kawan yang dengan jeniusnya menyampaikan pertanyaan ini pada saya, yang kemudian membuat saya berpikir, membolak-balik buku, membuka memori lama yang mungkin sudah usang , untuk kemudian menemukan apa kira-kira jawaban yang tidak hanya benar, tetapi juga tepat saya sampaikan pada beliau tentang “ Bagaimanakah caranya kita mengukur, mengetahui kekuatan kita sendiri untuk memahami orang lain..”
Semoga Anda sepakat dengan saya tentang pentingnya pertanyaan ini buat kita, yah paling tidak ada keyakinan besar dalam diri saya dengan modal pertanyaan ini, kita akan bisa menapaki curamnya tebing kehidupan dengan nafas yang tetap teratur.
Sebelum melangkah lebih jauh tentang diskusi di atas, menurut Anda, mengapa pula kita ‘dituntut’ memahami orang lain, wong kita sendiri sudah tergulung bergumpal-gumpal masalah yang kadang kita sendiri tak kunjung tahu di manakah letak ujung dan pangkalnya. Ya, sepakat dengan Anda dan banyak orang lain yang sependapat, sayapun juga mengakui bahwa tidak mudah memang untuk kita memahami orang lain sementara kita sendiri belum beres, kan begitu?
But Kawan, buat menaikkan kualitas, coba mari kita atur kalimatnya seperti ini, “Memang sulit sebagai manusia yang pasti memiliki ego untuk ‘begitu saja’ memahami orang lain, tapi saya yakin saya bisa kalau ada kemauan..” daripada berkelit berkali-kali kita bilang “Bisa sih.. tapi kan sulit..”. Menangkap bedanya?Read the rest of this entry »
“Kebenaran, bagaimanapun pahitnya, haruslah tetap disampaikan,” kalimat ini masih mengusik pikiran saya bahkan sampai saat ini di mana seharusnya saya sudah mulai harus bisa mendefinisikan arti sebenarnya dari kata “kebenaran” itu. Tapi memang demikianlah faktanya.
Menurut saya, “kebenaran” itu tetaplah memiliki pegangannya sendiri, acuan, dan hukumnya, tak peduli dengan kuantitas manusia yang mengakuinya. Dan dalam pikiran sadar saya, sebuah kebenaran itu pastilah memiliki maksud mulia hingga ia kemudian disebut dan dinobatkan sebagai sebuah kebenaran. Katakanlah sebagai percontohan yang gampang, melanggar lalu lintas itu adalah sebuah tindakan yang tidak benar, tak peduli berapa banyaknya orang yang melanggar melampaui jumlah orang yang mau mematuhi tata tertib lalu lintas. Di sini, kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas, bagaimanapun tetap sebuah kebenaran. Pengaturan tata tertib lalu lintas ini memiliki maksud yang sangat mulia, melindungi dan menata para pengguna jalan hingga tidak terjadi kesemerawutan yang berujung pada meningkatnyaangka kecelakaan.Read the rest of this entry »
Belakangan ini, ada yang aneh dengan diri Pailul. Ada sesuatu yang berubah. Sudah hampir sebulan ini sebetulnya, Pailul jadi doyan banget melototin salah satu stasiun tivi swasta kala sore hari, menjelang maghrib. Nonton drama Asia. Sejam nggak boleh ganti saluran! Walhasil, adiknya yang paling bontot suka mencak-mencak, wadul perihal sikap otoriter kakaknya ini ke bapaknya, jelas aja karena dia nggak bisa lagi nonton OB (hihi..bukan promosi lho..). usut punya selidik, ternyata Pailul lagi kasmaran sama anak gadis kepala sekolah. Falling in Love at the First Sight, katanya. Suatu ketika ia pernah melintas di depan rumah pak Kepsek, dan melihat si gadis yang cantik rupawan, sedang bermain layangan, terusnya. Sisi romantisnya sedang sensitif. Tapi dia masih berkilah, nonton drama Asia itu bukan sebuah degradasi mentalitas. Mereka punya daya tarik, memang berkualitas, nggak seperti sinetron lokal yang hanya menjual paras artis, tanpa ditunjang kemampuan acting yang mumpuni. Bahasa tubuhnya selalu hiperbolik, nggak pas dengan konteks dan skenario. Wah wah.. tumben kamu jadi kritis gitu Lul! Ya iya lah, kita harus perhatian terhadap pendidikan, tivi itu harus memainkan peran parenting juga, jadi orang tua yang baik buat bangsa!, hihi.. bisa aja Pailul.
Dan, bisa ditebak apa yang kemudian terjadi pada Pailul. Dia jadi kagum, nge-fans berat sama artis tetangga, Vic Chou. Ngguanteng! tiap hari dia patut-patutkan diri di depan cermin. Vic Chou itu cuakep ya? Gumamnya tiap hari, yang jelas di-iyakan sang cermin. Iya banget lah Lul! Untuk yang ini, saya sepaham dengan dia: Takjub, kagum adalah jembatan yang menghubungkan antara kekurangan diri (lebih tepatnya rasa kurang diri) dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Kalau saya pernah kagum dengan Pak Habibie yang bisa bikin pesawat, maka menurut saya, itu karena beliau bisa bikin pesawat dan saya tidak. Kalau saya mengagumi Bung Hatta, itu lebih disebabkan karena beliau bisa memimpin bangsa dengan sebegitu ber-kharismanya, sedang saya belum, dan seterusnya. Boleh setuju, dan monggo kalau tidak, dengan argumentasi masing-masing, pastinya.Read the rest of this entry »
Recent Comments