Karyawan Seperti Apakah Anda?

Ulasan No Comments »

Kita yang beraktivitas di dunia kerja tentu tidak lagi asing bahwa istilah karyawan selalu diposisikan berperang terbuka dengan satu istilah lain, apa itu? Ya, pengusaha! Jadinya employee versus entrepreneur, karyawan lawan pengusaha.

Sesaat menjelang lulus dari dunia pendidikan, seseorang biasanya berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama sulit, apalagi bagi mereka yang sudah memulai merintis usaha semenjak kuliah, mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan, jadi karyawan, ataukah meneruskan usaha saja. Kita kembali ke kedua istilah tersebut, karyawan dan pengusaha. Kedua istilah ini adalah hasil dikotomi dalam dunia kerja, bertahta pada dua kutub yg saling berhadapan. Dan parahnya, banyak yg cenderung memberikan penilaian yg sangat sepihak, tidak obyektif. Kalau mau kaya, ya jadi pengusaha! Benarkah? Tidak salah tentu saja. Tapi apakah lantas menjadi karyawan itu tidak bisa jadi kaya? Read the rest of this entry »

Kepribadian Majemuk

Ulasan No Comments »

“Minds of Billy” (1982) dengan edisi terjemahannya berjudul “24 Wajah Billy” benar-benar memukau. Bagi saya yang minim kemampuan sastra, sungguh sulit menggabungkan antara fakta (kisah nyata tentang Billy, nama asli William Stanley Milligan, seorang pria dengan kepribadian majemuk) yang tidak boleh terlewat semenit pun detil dengan narasi yang pada saat-saat tertentu membutuhkan improvisasi cerita yang membuat pembaca bisa betah. Bukan untuk membohongi pembaca tentu saja, tetapi mengikuti kesepakatan dengan tokoh utama, Billy, yang ingin beberapa kelompok dalam kisahnya tetap terlindungi. Jangan kuatir, terlalu sedikit bila dibandingkan dengan semua kejujuran dan keterbukaan Billy yang tertuang dalam satu buku. Ceritanya tetap hidup, orisinil, dan jelas memukau!

Billy Milligan, lebih tepatnya tubuh manusia hidup yang bisa bernafas dan suka merokok, yang oleh ibunya diberikan nama Billy Milligan, pernah melakukan beberapa tindak kriminal. Yang paling menghebohkan adalah kejadian di OSU (Ohio State University) pada awal 1980an. Peristiwa ini diberitakan secara besar-besaran di koran-koran lokal dan menempati headline selama berminggu-minggu. Billy dituduh melakukan tindakan kejahatan berupa penculikan, perampokan, dan perkosaan terhadap tiga orang wanita. Perbuatan yang selalu ia sangkal pernah ia lakukan. Kasus ini akhirnya berakhir dengan pembebasan Billy karena majelis hakim saat itu menganggapnya tidak waras dan tidak bisa bekerjasama bahkan untuk pembelaan dirinya sendiri. Ini atas rekomendasi hasil penelitian selama lebih dari tujuh bulan oleh psikiater ternama, Dr. George Harding dari Harding Hospital.

Billy tidak pernah tau kapan awalnya pribadi-pribadi itu muncul dalam dirinya dan menguasai alam sadarnya untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Sewaktu kanak-kanak dia mengalami perlakuan yang amat kasar dari ayah tirinya. Dia sering dibentak-bentak, dipukuli, bahkan dianiaya secara seksual dan kemudian diancam akan dikubur dalam sebuah lumbung di pertanian milik sang ayah tersebut bila dia coba-coba mengadu pada ibunya. Kekerasan itu juga sering ia lihat dengan mata kepalanya sendiri terjadi pada ibunya. Pernah suatu ketika ia lihat muka ibunya lebam kebiru-biruan dan dari kepalanya mengalir darah segar. Rambut sang ibu dicerabut dengan paksa hingga lepas dari kulitnya.

Penyiksaan itu ia alami antara umur 8 atau 9 tahunan.

Pengalaman traumatis seperti inilah yang kemudian disimpulkan menyebabkan Billy, si pribadi inti, menarik diri dari dunia nyata karena tidak sanggup melihat lagi, menyaksikan peristiwa serupa terus berulang dalam hidupnya. Billy depresi, frustasi, bahkan kemudian sering mencoba berbagai macam cara untuk mengakhiri hidupnya. Hidup yang terlalu mengerikan baginya.

Pada saat-saat seperti itu secara bergantian tokoh-tokoh, pribadi-pribadi itu muncul di dunia nyata. Menggantikan posisinya di alam sadar dan mencuri waktu mengambil alih “tempat utama” (istilah yang disepakati oleh semua tokoh dalam pribadi Billy untuk menggambarkan sebuah panggung yang besar dengan sorot-sorot lampu terang. Siapapun yang masuk kesana, berarti sedang mewakili atau menjalankan peran utama berhadapan dengan dunia nyata).

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan membaca kisahnya, saya bersedia berbagi cerita.

Saya ambilkan contoh (satu korban dari tindakan kriminal yang terjadi di OSU) mengapa kemudian Billy dinyatakan bebas karena dianggap tidak waras. Kejadian yang dituduhkan adalah Billy pada suatu pagi menculik Carrie Dryer, mahasiswi OSU yang sedang memarkir mobilnya. Merampok dan memerkosanya di lokasi yang jauh dari area kampus. Carrie berkali-kali melihat hal-hal aneh pada kelakuan pria yang menculiknya. Berkali-berkali pria itu menunjukkan perubahan serta raut muka serta cara bicara yang berbeda-beda. Kadang beraksen Slavia dan di waktu lain ia pakai aksen Brooklyn. Di satu waktu ia lembut dan sopan tapi tiba-tiba saja bisa berubah menjadi sangat pemarah dan kasar.

Di tempat tinggalnya, polisi dengan sangat mudah menangkap Billy tanpa sedikit pun perlawanan. Saat ditangkap, Billy berkali-kali protes, apa yang sudah ia lakukan hingga dirinya ditangkap. Polisi juga menemukan bukti-bukti berupa pistol, cek bertuliskan sejumlah uang dengan rekening atas nama Carrie Dryer, serta beberapa bukti lain.

Jelas saja Billy tidak melakukan perbuatan itu karena memang dia tidak pernah melakukannya. Pelakunya adalah pribadi-pribadinya yang lain yang mengambil alih kesadarannya pada saat peristiwa itu terjadi.

Persisnya seperti ini.

Saat itu Jumat jam 7.30 pagi Ragen (pribadi dalam tubuh Billy yang sangat kuat, jago berkelahi, cakap memainkan senjata, dan berlogat Slavia) sedang joging di area OSU. Niatnya pagi itu dia hendak merampok seseorang untuk mendapatkan sejumlah uang untuk membayar beberapa tagihan yang sudah jatuh tempo. Saat melihat Carrie Dryer, ia berpikir akan mencari mangsa lain saja karena pantang baginya merampok seorang wanita. Itu prinsip yang dia pegang.

Tetapi Adalana tidak setuju. Adalana adalah sosok lain dalam diri Billy. Seorang wanita lesbian yang kesepian dan sedang membutuhkan pelukan dan perhatian. Dengan caranya sendiri ia kemudian berhasil masuk ke tempat utama menggantikan Ragen. Dia ambil pistol Ragen dari sarungnya dan ditekankan pistol itu ke lengan si wanita. Sebelum akhirnya merampok dan memerkosanya (bila ada istilah lain untuk perbuatan seorang lesbian, rasanya istilah ini tidak cocok saya gunakan), Adalana lebih dahulu mengajaknya jalan-jalan. Nah, saat jalan inilah secara bergantian Adalana sering berebut tempat utama dengan Kevin dan Philip. Kevin adalah penjahat kelas teri, berambut coklat dan bermata hijau, sedangkan Philip adalah penjahat brutal. Dia warga New York, dengan logat Brooklyn yang kental. Dia sering berbicara kotor dan kasar. Keduanya adalah pribadi-pribadi yang ada dalam diri Billy.

Yang lucu, menurut saya, adalah pada saat sadar waktunya telah dicuri, pribadi-pribadi ini jadi bingung setengah mati dengan apa yang ia lihat. Mengapa tiba-tiba dia sedang bermobil dengan seorang wanita yang tidak dikenal. Ragen yang tidak tahu-menahu tentang uang yang tiba-tiba saja ia temukan di atas meja sementara ia tidak ingat pernah merampok siapa pun. Allen juga nurut saja saat polisi menggerebek rumahnya dan menemukan banyak barang bukti. Allen ini pribadi yang muncul saat polisi menangkap Billy.

Bila ada teman-teman yang pernah atau sedang menekuni bidang psikologi, saya akan senang sekali bila teman-teman mau memberikan pendapat, tinjauan dari ilmu tersebut.

Terimakasih.

Salam.

Khoirul Azis R.

Perpustakaan dan Lingkaran Kemiskinan

Ulasan 1 Comment »

Mengetahui data yang ada di Dinas Pendidikan Kota Surabaya tentang perpustakaan di kota metropolis ini, kita memang pantas miris. Dari 1.713 sekolah, hampir separo belum memiliki fasilitas penunjang pendidikan berupa perpustakaan sekolah (Jawa Pos, 1 Desember 2007). Apalagi untuk sekolah-sekolah agama, semacam MI, MTs, dan MA kondisinya sungguh memprihatinkan, masih jauh dari angka separonya belum memiliki perpustakaan. Dilaporkan jumlah 31 persen untuk MI, 22,2 persen untuk MTs, dan baru 10 persen untuki MA yang memiliki fasilitas tersebut. Kesalahan institusi pendidikan?

Sungguh menyedihkan melihat betapa minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap fasilitas pendidikan seperti ini. Inilah salah satu hal yang bisa menjawab pertanyaan mengapa begitu minim tenaga terampil (pustakawan/ pustakawati) bagi perpustakaan, khususnya untuk sekolah. Dalam Diagram Lingkaran Kemiskinan (circles of poverty), ada saling keterkaitan antara kekurangan tenaga terampil dan investasi pendidikan yang rendah. Urutan persisnya begini : investasi pendidikan rendah—kurang tenaga terampil—produksi rendah—pendapatan rendah (Malassis, 1975). Urutan tersebut adalah urutan sebab-akibat. Rendahnya investasi di bidang pendidikan berakibat pada kurangnya tenaga terampil, dan seterusnya. Maka tidak lah mengherankan bila tidak banyak sekolah yang memiliki atau menyediakan tenaga pustakawan/ pustakawati yang handal dan siap membantu anak didik dan guru dalam penyediaan informasi.

Saya kurang sependapat bila permasalahan kekurangan fasilitas perpustakaan hanya dilimpahkan pada institusi pendidikan, yakni kampus atau sekolah (Metropolis Jawa Pos, 15 Desember 2007 berjudul Perpustakaan Daerah Bukan Tempat Buangan). Menurut hemat saya, institusi pendidikan sebenarnya juga menjadi korban kebijakan pendidikan yang selama ini digulirkan. Jangankan perpustakaan yang memadai (apalagi tenaga pustakawan), sekolahnya saja masih banyak yang jauh dari kesan layak, seperti atap yang sering bocor saat hujan, kebanjiran, atau roboh diterpa angin dan seterusnya.

Bukankah anggaran pendidikan yang 20 persen itu pun masih diperjuangkan? Iya, dengan dalih angka itu akan dicapai dengan tahapan dan dalih lainnya, pada intinya investasi di bidang pendidikan terbukti belum cukup mampu mengangkat kualitas pendidikan di kota ini. Anggaran pendidikan belum sampai pada angka 20 persen sesuai amanat Undang-undang. Guru? Di internalnya sendiri, sekolah pun harus berjibaku dengan kesejahteraan GTT (guru tidak tetap) yang kian tidak jelas nasibnya. Alih-alih memperhatikan kualitas pendidikan melalui keberlangsungan tersedianya perpustakaan sekolah yang memadai, yang ada adalah memperjuangkan kualitas hidup pribadi dan keluarga yang menjadi tanggung jawab utama guru sebagai seseorang di dalam keluarga.

Dalam sebuah proses belajar-mengajar, para peserta didik memang semestinya diberikan kesempatan yang cukup untuk membuka pikiran, menambah wawasan, mengembangkan bakat, serta memperkaya pengetahuannya melalui berbagai kegiatan (Metropolis Jawa Pos, 18 Desember 2007, Ironi Perpustakaan Sekolah di Surabaya). Dalam psikologi perkembangan, proses perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh 4 macam faktor, yakni : pemasakan, pengalaman atau kontak dengan lingkungan, transmisi sosial, dan ekuilibrasi (Knoers, 1973). Pemasakan adalah tahap pertumbuhan struktur fisik secara bertahap, yang berdampak pada perkembangan kognitif anak. Pengalaman atau kontak dengan lingkungan akan berpengaruh pada mental si anak, yang bisa didapatkan dari pengalaman fisik atau logiko-matematik (diperoleh dari koordinasi internal perilaku individu). Transmisi sosial didapatkan melalui interaksinya dengan sekolah, media massa, dan lain-lain. Ekuilibrasi membenturkan anak dengan konflik-konflik yang kemudian berusaha ia atasi dengan menemukan kembali keseimbangan dalam dirinya. Tahap ini merupakan integrasi dari ketiga faktor sebelumnya. Dalam proses pendewasaannya, anak pasti mengalami keempat stadium ini, hanya saja kecepatannya berbeda-beda. Dalam hal ini, bila perpustakaan sekolah memiliki tingkat kelayakan yang tinggi, menarik, dan nyaman, maka ia bisa berperan dalam mempercepat proses perpindahan stadium itu.

Kembali pada lingkaran kemiskinan di atas, bila kebijakan pendidikan yang ditelurkan dewasa ini belum cukup mampu menghasilkan tenaga-tenaga terampil (imbas kurangnya anggaran) maka yang dihasilkan kemudian, sebagai efek sampingnya, adalah semakin banyaknya angka pengangguran, meningkatnya kriminalitas, dan kembali lagi kualitas pendidikan menjadi rendah karena kekurangsiapan SDM pendidikan memaknai setiap kebijakan pemerintah. Kalau sudah begitu, kita hanya pantas mengelus dada bila dijumpai banyak sekolah yang dikelola seadanya, banyak pungutan di sana-sini, harga buku mahal, dan banyaknya anak putus sekolah. Bayangkan saja, di kota sebesar Surabaya, dari 31 kecamatan, setidaknya ada 234 anak usia SD yang tidak bersekolah (Jawa Pos, 17 Desember).

Siswa dan Permasalahan Hidup

Perpustakaan sekolah yang memadai tidak hanya membantu anak didik menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, tetapi akan mampu merangsang mereka untuk menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari petualangannya menemukan jati diri, membentuk kepribadian, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, yang pada akhirnya memberikan berbagai alternatif respon pada mereka untuk menyelesaikan masalah-masalah (stimulus) yang dihadapi dalam keseharian hidupnya. Di dalam kesehariannya, anak dituntut mampu berpikir secara kreatif, mengembangkan alternatif-alternatif yang mungkin bagi permasalahan hidup yang mereka hadapi.

Dalam proses berpikir secara kreatif, ada tahapan yang dinamakan preparasi, ialah tahapan dimana otak berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Seperti tubuh yang membutuhkan cukup makanan yang sehat untuk menunjang berbagai aktivitas, demikian pula dengan otak, membutuhkan inputan yang memadai untuk memungkinkan tahapan ini berlangsung dengan sempurna. Inputan bagi otak berupa informasi, yang bisa diperoleh seorang anak, selain dari pengalaman juga dari buku-buku yang mereka baca.

Apa yang terjadi bila anak didik tidak memiliki cukup alternatif untuk memecahkan berbagai persoalan yang mereka hadapi setiap harinya? Jawabannya sudah terlalu sering menghiasi berita-berita kriminalitas setiap hari di harian-harian nasional maupun lokal. Narkoba, kejahatan di bawah umur, pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak, dan sebagainya. Bila menilik Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0103/O/1981 tertanggal 11 Maret 1981, bahwa salah satu fungsi perpustakaan sekolah adalah, “……pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya, …..,” maka perpustakaan sekolah adalah tempat bagi para siswa untuk mampu mengembangkan alternatif, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan permasalahan yang mereka hadapi, tentu saja salah satunya melalui ketersediaan buku-buku berkualitas yang menarik bagi siswa.

Nah, bila circles of poverty (lingkaran kemiskinan) meramalkan berbagai dampak negatif dari ketidaktersediaan fasilitas perpustakaan yang layak dan tenaga terampil yang minim (berupa minimnya produksi dan rendahnya pendapatan), maka mari kita coba mengarifi sebuah pernyataan seorang moral and ethics philosopher kelahiran 551 SM, Kong Fu Tsu yang berbunyi, “Adalah lebih baik kau nyalakan sebuah lilin betapapun kecilnya, daripada engkau berlarut-larut dalam kegelapan.”

Bila menunggu perubahan kebijakan tentang anggaran pendidikan yang mencukupi rasanya bukan sikap yang tepat mengingat tingkat kemendesakan kondisi pendidikan di kota tercinta ini, maka menurut saya adalah peran swasta yang harus dioptimalkan untuk :

Pertama, pengadaan buku-buku berkualitas serta fasilitas penunjang lainnya, seperti : internet, dan event yang mampu menarik masyarakat (atau siswa) untuk lebih mendekatkan diri pada perpustakaan. Beberapa waktu lalu kegiatan serupa sudah diawali oleh perpustakaan daerah Jawa Timur yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan swasta nasional.

Kedua, penyaluran tenaga-tenaga terampil pustakawan dari institusi pendidikan (sekolah atau perguruan tinggi) yang menyediakan program ilmu perpustakaan. Tentunya harus pula didukung dengan kompensasi yang layak bagi mereka dengan menjadi pustakawan di perpustakaan. Di sini diperlukan peran pihak swasta melalui program corporate social responsibilities (CSR)-nya.

Salam,

Khoirul Azis R

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login